Lelaki Baik untuk Pekerja Seks Komersial :)

| 0 comments |

Hemmm... Sudah lama sekali rasanya gak pernah buka blog ini. Hingga pada akhirnya ada seseorang yang mengirimkan message fb kepada saya untuk memperbaharui tulisan. hah.. padahal saya sudah sangat jarang menulis. Tapi ngomong-ngomong saya lagi keranjingan nulis skripsi. huh?? Apa itu bisa disebut keranjingan? Mungkin lebih kepada menulis karena dipaksakan. Dipaksakan hingga hampir membuat saya sakit jiwa.

Well, bagaimana kalau kali ini kita bercerita tentang skripsi. Apakah definisi dari skripsi? Hemmm... Googling sebentar ya? Hemmm.... Skripsi adalah... Tulisan yang dibuat oleh manusia. Hemmm... Tiktoktiktoktiktoktiktok... Aishhh.. Apalah penting definisinya. Sekarang saya hanya akan memberitahu tentang apa skripsi saya yang mengangkat tema pelacuran dengan subjek utamanya, pekerja seks komersial (PSK).

Mari kita mulai... Apa sih Pelacuran itu? Kalo menurut Simandjuntak (1981, hal. lupa :D) ada beberapa unsur esensial dalam pelacuran, yaitu dilakukan karena uang atau jasa dan dilakukan di luar pernikahan. Pelacuran memiliki standar ganda, di satu sisi adanya kegiatan pelacuran dipandang sebagai pekerjaan hina dan kotor oleh hampir sebagian besar masyarakat, sementara disisi lain kegiatan pelacuran ini memberi sumber pendapatan untuk negara yang relatif besar bahkan bisa menghidupi orang-orang yang berada di sekitar kompleks pelacuran. Hemmm... Yah kalo sudah ngomongin dua sisi yang berlawanan gini jadi bikin bingung deh... ibarat kata dikasih pertanyaan enak jomblo apa punya pacar? tetep kan ada enaknya ada enggaknya. Kembali ke diri kita masing-masing aja deh kalo menilai masalah ini. Tapi bagi saya pelacuran ini masalah serius yang yah memang sulit untuk diberantas.


Lalu siapa sih wanita Pekerja Seks Komersial atau PSK itu? Terlalu hinakah mereka karena melacur? Bagi saya mereka hanya wanita yang kadang tidak seberuntung kita yang bisa hidup normal seperti layaknya wanita lainnya. Wanita yang kadang bisa dibilang memiliki banyak kekurangan hingga memaksa mereka (bekerja)di jurang gelap pelacuran atau malah justru kelebihan karena dunia prostitusi membuat mereka bisa memuaskan hasrat seksualnya. Kenapa dibilang memiliki kekurangan, yah mungkin mereka tidak seberuntung kita yang diberi kecukupan harta untuk kuliah, diberi teman-teman yang selalu mendukung dan menyenangkan, memiliki pasangan yang mencintai dengan tulus, memiliki keluarga yang harmonis dan kelebihan-kelebihan lainnya. Sementara itu kenapa dibilang kelebihan, hemmm mungkin diantara kita ada yang tau penyakit maniak seks. Yah dengan terjun ke dunia prostitusi mereka bisa memuaskan hasrat seks mereka, meskipun tanpa dibayar. woouuuww...... gratis tis tis...

Berdasarkan data yang saya dapat di Tempointerkatif online kalo tidak salah (Saya lupa karena banyaknya data online di laptop saya haha, jumlah pekerja seks komersial di Indonesia mencapai 270.000 orang. WOW! Angka yang besar ya?? Tapi ngomong-ngomong apakah sudah terhitung semua itu? Yah seperti yang kita tau pekerjaan ini kan cenderung disembunyikan dan ditutup-tutupi jadi yah mungkin masih ada wanita-wanita di jalan-jalan dan di rumah-rumah bordil yang belum terdata. Dan saya rasa jumlah ini akan terus bertambah karena berbagai faktor. Apalagi bisnis esek-esek ini udah mulai banyak inovasinya loh. Dari salon plusplus,massage, karaoke plusplus, ditambah dengan pilihan berbagai macam gadis dari luar negeri seperti China, Rusia dan lain-lain. Kemajuan bisnis kaya gini tentunya karena subjek yang diperjualbelikan semakin beragam dan banyak donk?

Menurut Kartono di buku Patologi dan Rehabilitasi Sosial, salah satu usaha kuratif yang bisa dilakukan untuk menanggulangi pelacuran adalah dengan mencarikan pasangan hidup bagi pekerja seks komersial. Hemmm... Yah kedengerannya menyenangkan, tapi segampang itukah mencarikan pasangan untuk PSK? Orangtua mana yang mau anaknya menikah dengan PSK yang pekerjaannya dipandang sebagai pekerjaan hina? Lelaki mana yang mau menerima perempuan yang sudah tidak perawan dan ditolak oleh masyarakat?
Seperti yang kita ketahui bersama juga bahwa ada banyak PSK yang menjadi PSK gara-gara ditelantarkan suaminya, selalu menerima kekerasan-kekerasan dari suami mereka, dipukul, tidak dinafkahi, ditinggal pergi dengan meninggalkan banyak anak? Hingga pada akhirnya membuat para PSK ini menjual diri untuk menyambung hidupnya dan anak-anaknya? Kalau faktanya seperti ini, apakah pasangan hidup tetap dapat menanggulangi pelacuran?

Hemm.... Mari berpikir sebentar.... Hemmm.... Tiktoktiktoktiktok.... Lalu di kepala saya muncul jawaban, "yah tetap bisa kok asalkan.....". Lalu saya berpikir lagi, kalau seandainya tidak ada laki-laki yang mau menikahi dan menafkahi mereka, kapan mereka akan keluar dari dunia yang telah mengoyak-ngoyak jiwa itu? Lalu apa guna ada banyak laki-laki di dunia ini? ---> sepertinya ini pertanyaan yang aneh... haha.. Yah dengan kata lain, hey kalian laki-laki terutama yang sering ke 'jajan' coba donk dipikir. Haduh kehabisan kata-kata saya...


Yasudahlah.. Pada intinya laki-laki seperti apa sih yang bisa mengajak mereka keluar dari pelacuran?
Tentunya, laki-laki itu adalah laki-laki yang benar-benar tulus mencintai PSK. Laki-laki yang tidak hanya memandang wanita sebagai pemuas seks mereka. Laki-laki yang tidak hanya memandang wanita sebagai objek seks. Laki-laki yang dengan tulus mencintai PSK apa adanya. Mencoba memaafkan masa lalu PSK dan mengajaknya menatap masa depan yang lebih baik.
laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, mau memberikan nafkah lahir dan batin. Mau menghidupi anak-anaknya. Tidak meninggalkan mereka begitu saja, juga tidak kembali menyuruh mereka menjadi PSK meskipun keadaan ekonomi mereka melilit.
Laki-laki yang mampu mengajak bertobat dan mengajarkan agama kepada PSK. Mampu membawanya menjadi wanita solihah hingga berdua mencapai keluarga yang insyallah mawadah, sakinah warrohmah. amin

Sepertinya kok tidak mungkin sekali ya? Hemmm.... Tapi saya yakin diantara beratus juta penduduk dunia yang laki-laki, pasti ada banyak laki-laki baik untuk kalian para wanita yang sedikit kurang beruntung. :)
Berdasarkan tulisan saya diatas, Hey kalian para lelaki, jika kalian jatuh cinta dengan seorang PSK , apa yang akan kalian lakukan? melanjutkan atau meninggalkan? Kalau kalian benar-benar mencintainya, kalianlah lelaki hebat yang akan membawa mereka menuju jalan kebaikan dan jalan yang diridhoi oleh ALLAH swt. Amin...



nb: wooooowwww.... tulisan saya kenapa tambah berantakan sekali.... hahaha

LEER MÁS...

apa ini???

| 1 comments |

menunggu...
menunggu pagi...
menunggu orang terbangun...
menanti pundak...
menanti bahu...
menanti lengan...
menanti bersujud pada-Mu...
menanti telinga yang mau mendengarkan...
menanti mata yang mau melihat air mata...
menanti tangan yang mau mengusap air mata...
menanti hati yang mau tulus...
menanti-Mu Gusti Allah...
ampun Allah...
sakit...
kenapa aku???
apakah harus rasionalisasi lagi???
Ya Rabb...
kenapa aku???
apa salahku???
kenapa dibiarkan masuk pada jurang seperti ini???
jurang yang menjauhkan Mu dari ku...

aku perempuan lemah...
murah...
dan biarlah...
apa katanya...

LEER MÁS...

FOURPLAY

| 2 comments |





Dalam kancah style smooth jazz, kelompok ini boleh dibilang sebagai sebuah supergroup. Bagaimana tidak? Kelompok ini dibentuk oleh para tokoh smooth jazz yang sudah banyak pengalaman. Bob James (keyboard & piano), Nathan East (bass), Lee Ritenour (gitar) dan Harvey Mason pada tahun 1991 bergabung untuk membentuk Fourplay. Dengan catatan, posisi pemain gitar pada tahun 1998 digantikan oleh Larry Carlton.

Embrio terbentuknya kelompok Fourplay ini adalah ketika Bob James mengundang rekan lamanya Harvey Manson untuk membuat album “Grand Piano Canyon” pada tahun 1990. Penggarapan album tersebut juga melibatkan Lee Ritenour dan Nathan East, di mana momen itu menjadi pertama kalinya mereka semua dapat tampil bersama.

Harapan awalnya dengan menekankan popularitas Bob James dan Lee Ritenour, album tersebut mendapat respon pasar yang tinggi angka penjualannya seperti dalam album-album mereka sebelumnya. Akhirnya mereka semua justru sepakat untuk membentuk sebuah kelompok baru pada tahun 1991.

Album “Fourplay” keluar pada tahun 1991 dengan salah satu hitnya ‘Bali Run’ yang berhasil mengambil hati para pecinta musik jazz di Indonesia. Tembang tersebut barangkali hasil dari penampilan Bob James bersama Lee Ritenour di JakJazz Festival ’91. Di mana dalam kesempatan itu mereka juga sempat berlibur di Pulau Dewata. Koleksi hit lain dalam album ini adalah ‘After The Dance’ yang vokalnya diisi oleh Nathan East.

Dua tahun kemudian, mereka merelease album “Between The Sheets”. Dalam album ini, penampilan mereka lebih kepada corak musik easy listening, pop dan dalam beberapa tembang, vokal Nathan East cukup mendominasi. Penyanyi-penyanyi terkenal seperti Phil Collins, East, Patti Austin dan Peabo Bryson ikut dihadirkan dalam penggarapan album “Elixir” pada tahun 1994. Sebuah hits lama milik Phil Collins ‘Why Can’t It Wait Till Morning’, pada waktu itu kembali ramai diputar di radio-radio Indonesia. Album ini juga sedikit menonjolkan gaya permainan gitar Lee Ritenour yang khas.

Setelah empat tahun mereka absen dari peredaran karena kesibukan masing-masing personilnya, album dengan judul yang simpel “4” keluar dengan perubahan personil; Larry Carlton menggantikan posisi pemain gitar Lee Ritenour. Hal ini terjadi karena Lee Ritenour lebih sibuk untuk mendirikan label rekaman barunya Peak Records. Dengan masuknya Carlton ke dalam kelompok ini, pada awalnya ada dugaan kalau penampilan kelompok ini akan lebih keras dan menonjolkan unsur musik funk dan rocknya, meskipun akhirnya dugaan itu salah. Carlton justru menyesuaikan dengan gaya gitaris sebelumnya dan mereka semua tetap tampil lembut dengan sentuhan penggunaan alat loop dan sequencer. Pada tahun 1999, mereka kembali dengan album “Snowbound” yang berisi komposisi-komposisi terkenal yang berkaitan dengan perayaan Natal.

Pada tahun 2000, keluar album “Yes, Please”. Album ini sedikit memberi gambaran bahwa mereka juga mulai tertarik dengan musik elektronik namun tetap dalam kemasan yang lembut dan komunikatif. Seperti penampilan mereka dalam tembang ‘Robo-Bop’. “Heartfelt” keluar dalam tahun 2002 dengan penonjolan masing-masing kekuatan musisi, meskipun tetap digarap dalam studio. Nuansa yang sedikit berbeda muncul dalam album “Journey” di tahun 2004. Sentuhan gaya Eric Clapton cukup terasa dalam album ini. Dalam bulan Agustus 2006 ini, mereka juga telah mengeluarkan album terbaru mereka dengan judul “X”. Menandakan album kesepuluh mereka.

Sebagian besar karya-karya mereka lebih mewakili dari gaya yang kental unsur musik pop atau r&b yang dikemas dengan beberapa sentuhan harmoni musik jazz yang ringan dan komunikatif. Keberhasilan mereka secara komersil juga terbukti dengan lima album pertama mereka pernah menempati posisi puncak dari Top Contemporary Album dari Billboard Charts. Selain itu, beberapa albumnya juga sempat masuk dalam daftar nominator Grammy Awards. (*/Ceto Mundiarso/WartaJazz.com)

LEER MÁS...

i love latte and wish a good time for you all